Umrah adalah salah satu ibadah yang dewasa ini menjadi sangat favorit di antara pemeluk umat Islam Indonesia. Di dalam laman KATADATA disebutkan bahwasanya menurut Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, jumlah visa umrah yang telah dikeluarkan untuk Indonesia pada 2016 mencapai 699,6 ribu jemaah, meningkat 7,2 persen dari tahun sebelumnya. Tentunya jumlah yang sangat luar biasa meskipun jika dirasiokan terhadap total populasi muslim Indonesia akan terasa masih sedikit. Berjamurnya bisnis tour umrah baru menandakan animo masyarakat menjadikan ibadah umrah sebagai ibadah primadona di antara ibadah-ibadah yang lain. Namun, apakah sebagian besar dari kita sudah mengetahui tata cara ibadah umrah tersebut? Berikut ini kami berusaha memaparkan ringkasan tata cara umrah sesuai sunnah nabi. Semoga dengan tulisan ini, dapat menarik minat hati pembaca untuk melaksanakan ibadah umrah di kemudian waktu.
Siapa saja yang boleh (sah) mengikuti ibadah umrah secara syari’at?

Pertama, seorang muslim. Jadi untuk non-Muslim tidak diperbolehkan untuk mengikuti ibadah umrah meskipun dia sangat ingin merasakan pengalaman menjalani ibadah umrah.
Kedua, seorang yang berakal. Untuk orang yang memiliki gangguan kesehatan kejiwaan atau sedang dalam kondisi koma sehingga kesadaran tidak mereka miliki tidak diperbolehkan mengikuti ibadah umrah.

Ketiga, Baligh (dewasa). Meskipun anak-anak diperbolehkan mengikuti rangkaian ibadah umrah, tetapi pahala umrahnya baru dicatatkan bagi dirinya ketika mulai dia baligh. Baligh ini adalah terminologi di dalam Islam dimana seorang muslim telah dibebani kewajiban syariat. Tandanya pada lelaki sudah mimpi basah, sedangkan pada perempuan sudah haid.
Keempat, Merdeka (bukan budak). Pada zaman dahulu ketika masih adanya zaman perbudakan, maka seorang budak tidak dianggap sah ibadah umrahnya karena budak tidak memiliki hak kepemilikan atas dirinya. Seorang budak, kepemilikan dirinya dimiliki oleh majikannya.

Kelima, Mampu mengadakan perjalanan secara finansial maupun fisik.
Sebelum memulai rangkaian ibadah umrah, tentunya kita diharuskan meluruskan niat ikhlas bahwasanya ibadah umrah yang akan kita laksanakan semata-mata hanya untuk Allah subhanahu wata’ala, bukan untuk motif-motif yang lain seperti pasang foto di jejaring sosial. Mengapa saya perlu untuk menekankan tentang niat ini, karena ibadah yang diterima oleh Allah hanyalah ibadah yang berlandaskan atas dasar niat yang ikhlas (murni), jika tercampuri motif lain maka ibadah ini tidak dianggap sebagai ibadah di sisi Allah. Akan menjadi sangat sayang sekali jika kita telah mengeluarkan uang berjuta-juta untuk menuju ke tanah suci, tetapi ibadah kita tidak terima oleh Allah dan teranggap sebagai sesuatu yang sia-sia belaka.

Rangkaian ibadah umrah dimulai dari miqot makani. Miqot makani adalah daerah-daerah yang disebutkan oleh Nabi Muhammad sebagai daerah awal mula rangkaian ibadah Haji dan Umrah dimulai. Miqot ini katakanlah sebagai garis start dari rangkaian ibadah umrah. Miqot makani yang disebutkan oleh Nabi Muhammad ada empat tempat, yakni Dzul Hulaifah atau lebih famous dengan nama Birr ‘Ali bagi penduduk Madinah, Juhfah bagi penduduk Syam (Suriah, Palestina, Lebanon, Yordania), Qarnul Manazil untuk penduduk dari arah Iraq dan sekitarnya, dan yang terakhir Yalamlam untuk penduduk Yaman.
Di miqot ini ada beberapa hal yang dianjurkan untuk dilakukan seseorang yang hendak memulai ibadah umrah. Pertama, dianjurkan untuk memotong kuku, mencabut bulu ketiak, memotong bulu kemaluan, dan bagi laki-laki mencukur kumis. Kedua, mandi dengan sangat bersih sebagaimana mandi ketika ingin bersuci dari hadats besar.

Ketiga, bagi laki-laki dianjurkan memakai minyak wangi di kepala, janggut, dan badan sedangkan perempuan tidak diperbolehkan menggunakan wewangian yang menarik lawan jenis. Keempat, Memakai kain ihram untuk laki-laki dua potong kain sedangkan untuk perempuan bebas memakai pakaian apa saja yang sah jika digunakan untuk shalat (menutup seluruh aurat).

Kelima, ketika menaiki kendaraan maka hadapkanlah tubuh kita ke arah kiblat dan ucapkanlah LABBAIKALLOHUMMA ‘UMROTAN atau ALLOHUMMA LABBAIKA ‘UMROTAN. Keenam, melakukan perjalanan menuju Masjidil Haram (Ka’bah) sembari memperbanyak mengucapkan LABBAIKALLOHUMMA LABBAIK, LABBAIKA LAA SYARIIKA LAKA LABBAIK, INNAL HAMDA WANI’MATA LAKA WAL MULK, LAA SYARIIKA LAK.

Sesampainya di kota Makkah sebelum memasuki Masjidil Haram (Area Ka’bah), dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu jika memungkinkan, tetapi jika tidak memungkinkan tidak mengapa. Saat memasuki Masjidil Haram ucapkanlah ALLOHUMMAFTAHLI ABWABA ROHMATIK. Kemudian kita menuju sudut Ka’bah yang terdapat Hajar Aswad (batu hitam), di sinilah kita memulai putaran thawaf.

Bagi laki-laki harus membuka pundak sebelah kanannya dan menutup pundak sebelah kirinya dengan kain ihram sebelum mulai putaran thawaf. Putaran thawaf berlawanan arah jarum jam dimulai dengan menyentuh Hajar Aswad dan mengucapkan BISMILLAH ALLAHU AKBAR(hal ini dilakukan di setiap putaran thawaf sampai selesai putaran ketujuh, jika tidak mampu menyentuh Hajar Aswad cukup berisyarat dengan mengangkat tangan kanan kita ke arah Hajar Aswad).

Dimulailah putaran thawaf kita, untuk three putaran pertama dilakukan dengan berlari-lari kecil, untuk four putaran terakhir dengan berjalan biasa. Dianjurkan mengusap Rukun Yamani (sudut ka’bah sebelum Hajar Aswad) di setiap putaran, tetapi jika tidak memungkinkan tidak perlu melakukan isyarat karena isyarat hanya dilakukan di sudut Hajar Aswad. Saat melalui daerah di antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad, dianjurkan untuk berdoa RABBANA ATINAA FIID DUNYA HASANAH, WA FIIL AKHIRATI HASANAH, WAQINAA ADZABAN NAAR. Adapun selain di daerah tersebut, dianjurkan memperbanyak dzikir maupun do’a sesuai hajat kita masing-masing. Selesaikanlah thawaf hingga 7 putaran sempurna.

Selesainya melakukan thawaf bagi laki-laki menutup kembali kedua pundaknya. Kemudian jamaah umrah menuju ke daerah belakang Maqam Ibrahim. Di tempat ini kita mengucapkan WATTAKHIDZUU MIN MAQAAMI IBRAAHIMA MUSHALLA kemudian melakukan shalat sunnah thawaf dua rakaat dengan cara rakaat pertama membaca surat al-Fatihah dengan surat al-Kafirun dan di rakaat kedua membaca surat al-Fatihah dengan surat al-Ikhlas.

Setelah selesai shalat sunnah thawaf, dianjurkan untuk minum air zam-zam dan bagi laki-laki menyiram kepalanya dengan air zam-zam. Lanjut kita menuju ke Hajar Aswad untuk bertakbir dan menciumnya, jika tidak mampu cukup berisyarat dengan tangan kanan kita ke arahnya. Kemudian kita menuju ke bukit shafa dengan mengucapkan INNA SHAFAA WAL MARWATA MIN SYA’AAIRILLAHkemudian mengucapkan NABDA’U BIMAA BADA’ULLAHU BIHI.

Sesampainya di atas bukit Shafa kita melakukan rangkaian Sa’i, maka kita melakukan hal berikut ini:
Pertama, menghadapkan tubuh kita ke arah kiblat dan mengucapkan ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR, LAA ILAAHA ILLALLAAH WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL MULKU WALAHUL HAMDU YUHYI WA YUMIITU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR, LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAH ANJAZA WA’DAH WA NASHARA ‘ABDAH WA HAZAMAL AHZAABA WAHDAH.

Kedua, berdoa sesuai hajat kita masing-masing kemudian lakukan seperti yang dilakukan di langkah pertama, kemudian berdoa sesuai hajat masing-masing, kemudian lakukan seperti di langkah pertama.

Ketiga, menuju bukit Marwah untuk jamaah laki-laki dianjurkan untuk berlari-lari kecil di antara dua lampu bertanda hijau.

Keempat, melakukan persis hal yang dilakukan di bukit Shafa sebagaimana diterangkan di langkah pertama dan kedua.

Kelima, menuju ke bukit Shafa kembali dan melakukan sebagaimana diterangkan di langkah pertama dan kedua. Untuk bolak-balik antara Shafa ke Marwah dilakukan sebanyak 7 kali (dari Shafa ke Marwah dihitung satu kali, dari Marwah ke Shafa dihitung satu kali) dan nanti berakhir di Marwah.

Keenam, ketika melakukan perjalanan antara Shafa ke Marwah dianjurkan untuk berdzikir atau berdoa sesuai hajat kita masing-masing.

Selesailah rangkaian Sa’i di antara bukit Shafa dan Marwa, berlanjut ke rangkaian ibadah terakhir dalam ibadah umrah yaitu tahalul. Tahalul dilakukan dengan memotong/menggundul rambut bagi laki-laki. Selesailah rangkaian ibadah umrah kita sampai di sini.

Akan tetapi, ada beberapa hal yang kita dilarang melakukan selama kita berihram mulai dari miqot sampai kita selesai melakukan tahalul. Hal-hal yang kita dilarang melakukannya diantaranya:

1. Tidak boleh berbuat rofats (bersetubuh atau segala aktivitas yang mengarah kepadanya)
2. Tidak boleh berbuat fasiq (kemaksiatan/dosa)
3. Tidak boleh berbuat jidal (berbantah-bantahan)
4. Tidak boleh menutup muka dan memakai sarung tangan bagi wanita
five. Tidak boleh memakai penutup kepala bagi laki-laki
6. Tidak boleh memakai wewangian apapun selama berihram
7. Tidak boleh mencukur atau mencabut rambut apapun di tubuh kita
eight. Tidak boleh memotong kuku atau mencabut kuku
9. Tidak boleh meminang, menikah, dan menikahkan (menjadi Wali Nikah) bagi jamaah laki-laki
10. Tidak boleh dipinang atau dinikahi bagi jamaah perempuan
eleven. Tidak boleh berburu binatang buruan apapun (termasuk tidak boleh memakan binatang buruan orang lain)

Demikianlah ringkasan tata cara ibadah umrah. Semoga pembaca sekalian dapat menjalankannya dengan penuh khidmat dan dilancarkan sampai bertemu kembali dengan keluarga di tanah air.

LEAVE A REPLY